Aktivis Jurnalisme Warga Membutuhkan Perlindungan Hukum – Universitas Jember – Kampuspedia


Aktivis Jurnalisme Warga Membutuhkan Perlindungan Hukum - Universitas Jember - Kampuspedia

Jember, 10 Februari 2020

Saat ini kegiatan jurnalisme warga atau citizen journalism lebih hidup, terutama didukung oleh kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Siapa pun dapat menjadi jurnalis dengan mengumpulkan data, fakta, informasi, dan menulis untuk kemudian mendistribusikan artikel. Distribusi media juga beragam, mulai dari bentuk blog, halaman hingga menggunakan media sosial. Keberadaan kegiatan jurnalisme warga menurut Surya Aka, seorang jurnalis senior, di satu sisi menyediakan sumber alternatif pemenuhan informasi bagi publik, tetapi di sisi lain membuka peluang perselisihan hukum karena isi tulisan. Karena itu menurutnya, aktivis jurnalisme warga juga membutuhkan perlindungan hukum seperti jurnalis yang bekerja di media massa.

"Dalam menjalankan tugasnya, seorang jurnalis dilindungi oleh Undang-Undang nomor 40 tahun 1999 tentang Pers, sehingga jika ada perselisihan terkait konten berita, itu akan dimediasi oleh Dewan Pers dan tidak dilanjutkan ke pengadilan. Sekarang Lain halnya jika ada perselisihan terkait berita yang dihasilkan oleh aktivis jurnalisme warga, maka umumnya diselesaikan di koridor UU nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik atau ITE yang bisa berakhir di penjara. Oleh karena itu perlu pikirkan perlindungan hukum bagi aktivis jurnalisme warga dalam bentuk undang-undang, atau lembaga yang dimediasi jika ada perselisihan, "jelas Surya Aka, pensiunan Harian Jawa Pos yang masih aktif menulis ini.

Oleh karena itu Surya Aka mendorong aktivis jurnalisme warga untuk terus meningkatkan kemampuan mereka dengan belajar bagaimana menulis dengan baik dan belajar tentang kode etik jurnalistik agar tidak terjerat oleh masalah hukum. Kedua, mengusulkan kepada pemerintah dan parlemen untuk mengeluarkan undang-undang yang mengatur kegiatan jurnalisme warga atau mengakomodasi kegiatan jurnalisme warga dalam amandemen UU ITE. "Satu hal lagi, jadikan kegiatan menulis melalui citizen journalism sebagai wahana untuk berkhotbah dan berbagi kebaikan," kata pria yang juga ketua Fans Rhoma Irama dan Soneta (Forsa). Surya Aka menyampaikan pemikirannya dalam pertemuan aktivis jurnalisme warga yang difasilitasi oleh menaramadinah.com di Primebiz Hotel, Surabaya (9/2).

Pada kesempatan ini, Humas dan Protokoler Universitas Jember menerima penghargaan dari menaramadinah.com untuk pengembangan aktif jurnalisme warga dengan menulis dan menyebarluaskan kegiatan Universitas Jember melalui berbagai platform online seperti situs web resmi, dan sosial. media seperti Facebook, Instagram dan Twitter. "Langkah dalam mengembangkan jurnalisme warga oleh Humas dan Protokoler Universitas Jember diharapkan dapat menyebarluaskan kegiatan akademik Universitas Jember ke khalayak luas, sehingga nama Universitas Jember semakin dikenal," kata Agung Purwanto, kepala Hubungan Masyarakat dan Protokoler Universitas Jember yang menghadiri penghargaan tersebut.

Penghargaan tersebut juga diterima oleh aktivis jurnalisme warga lainnya dari berbagai daerah di Jawa Timur. Salah satunya diterima oleh Muhammad Rifa yang merupakan kepala sekolah dari SMA Singojuruh, Banyuwangi. Bagi Rifa, menulis telah menjadi kebutuhan untuk menyalurkan aspirasi, gagasan, dan pemikiran selain digunakan untuk memperkenalkan dan mempromosikan lembaga yang dipimpinnya. Sementara itu Husnu Mufid, manajer menaramadinah.com menjelaskan bahwa kegiatan ini diadakan salah satunya dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional 2020. "Memang, menulis tidak mengenal kata pensiun, terutama bagi kita yang sebelumnya bekerja sebagai jurnalis. seperti saya, karena tulisannya tidak mengenal kata pensiun, "pungkas Surya Aka memberi semangat kepada aktivis jurnalisme warga yang hadir. (saya)

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

DON'T MISS