Alat Sidik Jari untuk Deteksi Skizofrenia Memenangkan Penghargaan Institut Jepang


Alat Sidik Jari untuk Deteksi Skizofrenia Memenangkan Penghargaan Institut Jepang

INFOKAMPUS.BARU – Mahasiswa UB mendapatkan prestasi dalam Pameran Internasional untuk Penemu Muda (IEYI) yang diselenggarakan oleh Institut Penemuan dan Inovasi Jepang (23-27 / 10/2019).

Alat Uji Sidik Jari untuk Deteksi Dini Schizophrenia (Foto: Humas UB)

Kompetisi internasional ini diikuti oleh sebelas negara, yaitu Indonesia, Jepang, Makau, Malaysia, Filipina, Rusia, Singapura, Taiwan, Thailand, Cina, dan Vietnam.


Tahun ini bahkan ada lebih dari 4.000 proposal inovasi teknologi yang diajukan dan dipilih 300 inovasi dipamerkan dan dihadiri oleh pengunjung, mulai dari peneliti, akademisi, instansi pemerintah terkait, hingga investor.

Prestasi di tingkat internasional ini berhasil ditorehkan oleh tim gabungan 2019 mahasiswa baru dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (FILKOM UB).

Tim gabungan terdiri dari Rizka Fajriana Putri Ramadhani (Biologi / 2019), Nadia Riqqah Nurlayla (Biologi / 2019), dan Rahmah Nur Diana (Teknik Informatika / 2019). Ada empat penghargaan yang mereka menangkan, termasuk medali perak, penghargaan khusus dari Tiongkok, penghargaan khusus dari Filipina dan penghargaan khusus dari Macao.

Dalam acara ini tim membawa karya berjudul "Aplikasi Maos: Aplikasi Novel Menggunakan Analisis Fraktal Matematika untuk Deteksi Dini Schizophrenia pada Pola Sidik Jari".

Maos App adalah alat deteksi dini untuk skizofrenia melalui sidik jari menggunakan matematika fraktal.
Gagasan dari Maos App ini berangkat dari kekhawatiran akan sulitnya mendeteksi skizofrenia secara dini dengan murah, cepat dan tepat.

Dalam membuat aplikasi ini, Rizka dan rekan-rekannya berkolaborasi dengan salah satu rumah sakit di Malang untuk mengambil sampel 1.000 orang secara acak.

Tujuan dari pengambilan sampel ini adalah untuk mengidentifikasi hubungan antara sidik jari dan skizofrenia.

Dari hasil penelitian pada sampel ini diperoleh hasil bahwa sidik jari antara penderita skizofrenia dan mereka yang tidak ada perbedaan.
Perbedaannya dianggap sangat signifikan, mencapai 95-99 persen.

"Kami menggunakan matematika fraktal dalam mendeteksi sidik jari skizofrenia. Karena fraktal sendiri dapat mendeteksi ketidaksetaraan pola sidik jari melalui rumus penghitungan kotak. Prinsip rumus penghitungan kotak penghitungan adalah menghitung jumlah kotak yang menutupi objek sidik jari dan kemudian melakukan serangkaian iterasi menggunakan formula yang sama dengan memberikan ukuran kotak yang berbeda. Jadi dari serangkaian deteksi sidik jari kita mendapat nilai akurasi di atas 80%, "kata Rizka.

Setelah deteksi sidik jari, algoritma diterapkan dalam bentuk aplikasi seluler. Aplikasi mobile ini terintegrasi dengan pemindai sidik jari sehingga proses deteksi untuk sidik jari skizofrenia menjadi lebih cepat dan mudah.

"Melalui aplikasi ini, pengguna aplikasi dapat mengetahui apakah pengguna memiliki gejala skizofrenia atau normal. Aplikasi ini juga memiliki fitur untuk memberikan rekomendasi ketika pengguna terdeteksi memiliki skizofrenia," kata siswa baru tersebut.
Rizka mengaku tidak berharap timnya mendapatkan empat penghargaan sekaligus. Di masa depan mereka berharap bahwa Aplikasi Maos dapat dikomersialkan di Indonesia sehingga manfaatnya dapat dibagikan.

IEYI telah diadakan sejak 2004 sebagai hasil dari pertemuan International Intellectual Property Forum (IFIP) di Tokyo, Jepang pada November 2003.

Pertemuan tersebut diprakarsai oleh Institut Jepang untuk Penemuan dan Inovasi (JIII) yang melibatkan negara-negara dari Asia dan Afrika.

Salah satu hasil pertemuan tersebut adalah kesepakatan untuk mengadakan Pameran Internasional untuk Penemu Muda atau IEYI sebagai bentuk dukungan bagi generasi muda dalam sains dan teknologi. (Hum /Rfl)

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

DON'T MISS