Inilah Inovasi Hasil Bidang Kemo dan Biosensor dari Profesor ITS – Kemenristek / BRIN – Kampuspedia


2019 Penghargaan Sains APEC untuk Inovasi, Penelitian dan Pendidikan (ASPIRE)

Surabaya – Inovasi sepertinya terus-menerus diproduksi oleh para akademisi Institut Teknologi Sepuluh November (ITS). Salah satunya adalah oleh Prof. Dr. rer nat Fredy Kurniawan MSi yang telah menciptakan berbagai inovasi berbasis kemo dan biosensor mulai dari bidang medis, pertanian, hingga bidang halal.

Melalui temuan penelitiannya, profesor di bidang Chemo dan Biosensor yang akan secara resmi diresmikan oleh ITS, Rabu depan (12/2), ingin dapat membantu manusia dalam bidang deteksi dan analisis suatu objek yang diterapkan di berbagai bidang.

Dalam pidato ilmiah perdananya, dosen kimia menjelaskan bahwa chemo dan biosensor memiliki fungsi untuk mendeteksi analate atau target dengan memberikan sinyal. Perbedaan antara keduanya hanya terletak pada keterlibatan komponen biologis atau tidak. "Jadi fungsinya untuk merasakan sesuatu, target tergantung pada kasusnya," tambahnya.

Profesor ITS ke-124 itu menyebutkan enam penelitian dalam orasi ilmiahnya, yaitu pembekuan indikator, sensor glukosa, sensor dopamin, sensor sukrosa, sensor gelatin babi, dan juga sensor kepedasan. Pria yang akrab disapa Fredy ini mengungkapkan bahwa sebenarnya masih banyak penelitian lain, tetapi hanya enam yang disebutkan.

Dalam penelitiannya tentang indikator pembekuan, Fredy mengatakan bahwa tujuan utamanya adalah untuk mengatasi masalah penyimpanan vaksin polio. Vaksin polio harus disimpan pada suhu antara 0-10 ° C. Di luar suhu te

Melihat ini, Kepala Departemen Kimia ITS membuat indikator yang melekat pada vaksin selama penyimpanan. "Vaksin yang belum rusak akan berwarna merah, jika sudah mengalami perubahan suhu warna merah akan hilang yang menandakan vaksin sudah rusak," jelasnya. Menurutnya, penelitian ini memang sederhana, tetapi sangat bermanfaat.

Penelitian selanjutnya adalah sensor glukosa. Fredy mengatakan jika sensor glukosa umumnya menggunakan enzim. Tetapi kali ini berbeda, dosen kelahiran 28 April 1974 ini berhasil membuat sensor menggunakan bahan aktif berupa nanopartikel emas untuk mendeteksi glukosa. "Sensor dapat digunakan berulang kali dan dapat dibersihkan dalam kondisi parah," jelasnya.

Selain itu, Fredy juga mengungkapkan ada penelitian tentang sensor dopamin. Menurut Fredy, mengetahui kadar dopamin sangat penting, karena kekurangan dopamin dapat menyebabkan gangguan otak seperti Parkinson atau skizofrenia. Dopamin sendiri adalah sekelompok hormon katekolamin yang memiliki fungsi penting di saraf pusat, ginjal, dan hormon, serta sistem kardiovaskular. "Dopamin adalah senyawa penting karena berfungsi untuk merasa bahagia dan positif, untuk mendeteksi tinggi dan rendah bisa melalui darah atau urin," jelas Fredy.

Tidak hanya di bidang medis, Fredy juga berhasil menciptakan sensor sukrosa yang ditujukan untuk pertanian. Sukrosa dapat ditemukan setiap hari, seperti gula di dapur yang biasanya terbuat dari tebu. Dalam proses pembuatannya, untuk tebu ke pabrik harus diukur dan dihitung terlebih dahulu kandungan sukrosa di dalamnya. Karena petani tidak bisa mengukur kadar sukrosa, mengakibatkan harga gula selalu ditentukan oleh pabrik.

"Saat itu saya sedang berpikir tentang bagaimana kita memiliki sensor yang mudah digunakan petani, sehingga mereka tidak akan mudah tertipu," kata Fredy. Dia dan timnya telah membuat biosensor untuk sukrosa dengan melibatkan enzim invertase. "Dengan hanya meneteskan sampel tebu di ujung sensor, kandungan gula dapat diukur segera," katanya.

Tidak hanya itu, Fredy juga berhasil menemukan pendeteksi gelatin babi, yang saat ini banyak beredar gelatin babi di masyarakat. "Pembacaan dengan alat kami hanya dengan melihat pergeseran frekuensi, di mana frekuensi positif atau naik menunjukkan adanya bahan babi dalam sampel, dan frekuensi negatif atau urin menunjukkan kandungan materi sapi dalam sampel," jelasnya.

Akhirnya dalam orasi ilmiahnya, Fredy juga menemukan sensor pedas. Dia menjelaskan tingkat kepedasan pada cabai yang berbeda, jadi dia juga berinovasi membuat sensor untuk menentukan tingkat kepedasan. "Tim kami telah berhasil menciptakan sensor pedas berbasis emas yang dimodifikasi yang mampu menggantikan indera perasa manusia untuk mengukur rasa pedas dalam cabai," jelas dosen yang menerima dokter rerum naturalium (Dr.rer.nat.) Dari Universitas Regensburg, Jerman.

Melalui inovasi ini, Fredy ingin membuat produk yang lebih terjangkau di masyarakat dan dapat bermanfaat bagi banyak orang. "Meskipun masyarakat mengenal saya, tetapi saya merasa penelitian saya tidak dapat dirasakan langsung oleh masyarakat," katanya ketika ditemui di Departemen Kimia ITS.

Pada akhirnya, Fredy mengatakan bahwa kebahagiaan peneliti sebenarnya ketika produk penelitian yang mereka hasilkan dapat dirasakan oleh orang lain dan memberikan nilai lebih bagi mereka.

sumber: https://www.its.ac.id/news/2020/02/10/guru-besar-its-cipta-bagai-inovasi-di-bidang-kemo-dan-biosensor/

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

DON'T MISS