Manfaat Teknologi Nuklir untuk Pelestarian Warisan Budaya untuk Menentukan Usia Fosil – Kemenristek / BRIN – Kampuspedia


2019 Penghargaan Sains APEC untuk Inovasi, Penelitian dan Pendidikan (ASPIRE)

Bali – Penggunaan metode Radiocarbon Dating untuk mengetahui usia fosil purba membuka pemahaman baru bahwa teknologi nuklir tidak hanya terkait dengan masalah perdamaian. Namun, sangat spesifik terkait dengan misi budaya, salah satunya adalah pelestarian budaya. Hal ini diungkapkan oleh para peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Marlon Ririmarase pada pertemuan internasional yang merupakan kolaborasi Batan dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) berjudul Memanfaatkan Ilmu Pengetahuan Nuklir dan Teknologi untuk Pelestarian dan Pelestarian Warisan Budaya, di Kuta -Bali.

Menurut Marlon, kegiatan Batan dengan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Arkenas) telah dilakukan sejak tiga tahun lalu, tetapi untuk memiliki payung yang kuat, Batan dan Arkenas menandatangani perjanjian kerja sama yang mencakup kerja sama dalam penelitian dan juga pengembangan sumber daya manusia.

Pada kesempatan yang sama Kepala Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR), Totti Tjiptosumirat mengatakan penggunaan teknologi nuklir untuk kesejahteraan masyarakat terus berkembang, tidak hanya di bidang energi, industri, pertanian, kesehatan, dan lingkungan, tetapi juga dapat digunakan juga untuk pelestarian warisan budaya. Penelitian ini sangat mendukung upaya pemerintah dalam melestarikan warisan sejarah di negara ini.

"BATAN melalui beberapa unit kerja di bawah koordinasinya yang memiliki fasilitas nuklir untuk pelestarian warisan budaya bekerja sama dengan pihak terkait seperti Arkenas, Pusat Arkeologi Daerah, dan universitas yang melakukan kegiatan penelitian, pelatihan, dan lokakarya tentang pemanfaatan nuklir untuk pelestarian budaya warisan, yang kemudian hasilnya bisa diketahui oleh publik, "kata Totti.

Kolaborasi penelitian ini kata Totti, tidak hanya dilakukan dengan pihak-pihak terkait di tingkat nasional, tetapi juga dilakukan dengan beberapa negara anggota IAEA. Bentuk kerja sama internasional ini diwujudkan dengan partisipasi BATAN dalam proyek kerja sama teknis IAEA untuk wilayah Asia Pasifik.

Sebagai tindak lanjut dari kerjasama internasional ini, IAEA memprakarsai pertemuan untuk membahas pengembangan penelitian tentang penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi nuklir untuk pelestarian warisan budaya. "Pertemuan di Bali diprakarsai oleh IAEA dengan tujuan melakukan tinjauan program / kegiatan untuk penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi nuklir untuk pelestarian warisan budaya yang telah dinyatakan pada tahun 2018 di Bangkok," tambahnya.

Melalui pertemuan ini, Totti berharap akan ada peningkatan kesadaran dan implementasi metode yang digunakan dalam melestarikan warisan budaya dari negara-negara yang berpartisipasi di kawasan Asia Pasifik. Selain itu, orang lebih sadar bahwa teknologi nuklir sangat erat kaitannya dengan kehidupan manusia sehari-hari.

Totti menambahkan, dalam melakukan kegiatan bersama dengan pihak-pihak terkait, terutama dalam pemanfaatan aplikasi teknologi nuklir, banyak tantangan yang harus dikerjakan agar dapat melakukan kegiatan dengan baik. "Tantangan ke depan PAIR dalam melakukan kegiatan bersama dalam penerapan teknik nuklir selama ini, dengan Arkenas, salah satunya adalah keterbatasan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi ini, dan fasilitas / peralatan yang relatif menua," tambahnya.

Mengenai mekanisme pemanfaatan teknologi nuklir untuk pelestarian warisan budaya, Plt. Kepala Industri dan Lingkungan, Sutrasno mengatakan, zat radioaktif memancarkan radiasi dengan kekuatan tertentu. Radiasi yang dipancarkan oleh zat radioaktif mampu membunuh mikroba pada benda purba, sehingga benda ini tidak mengalami pelapukan.

"Energi radiasi mampu membunuh dan menghambat perkembangbiakan mikroba pada benda-benda kuno sehingga mereka tidak mengalami pelapukan atau jamur. Melalui teknologi penanggalan radiokarbon, ia mampu mengetahui kandungan karbon yang tersimpan dalam makhluk hidup yang telah mati sejak dulu seperti sebagai tulang dan tanaman yang kemudian digunakan untuk menentukan umur benda mati ini, "kata Sutrasno.

Saat ini, lanjut Sutrasno, teknik penanggalan radiokarbon telah dimanfaatkan oleh para peneliti di pusat penelitian Arkenas untuk menentukan usia fosil purba. Kegiatan ini merupakan bentuk upaya untuk berkontribusi pada teknologi nuklir dalam melestarikan warisan budaya di Indonesia.

sumber: http://www.batan.go.id/index.php/id/kedeputian/sains-aplication-teknologi-nukucle//application-isotopes-and-radiation/6261-teknologi-nuklir-untuk-p Pelestarian- budaya cagar

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

DON'T MISS