Membangun Ekosistem Penelitian Nasional, Pemerintah Meminta Penerima Beasiswa RISETPro untuk Belajar dan Mengadopsi Lingkungan Penelitian dari Universitas Negeri Maju – Kemenristek / BRIN


2019 Penghargaan Sains APEC untuk Inovasi, Penelitian dan Pendidikan (ASPIRE)

Siaran Pers Kementerian Riset dan Teknologi / BRIN
Nomor: 275 / SP / HM / BKKP / XII / 2019

Menteri Riset Teknologi / Kepala Badan Penelitian dan Inovasi Nasional Bambang P.S Brodjonegoro mengatakan bahwa salah satu faktor penting dalam membangun ekosistem penelitian adalah sumber daya manusia yang unggul dan kompetitif (peneliti) dan insinyur. Meningkatkan kapasitas, kompetensi, dan kualifikasi peneliti dan insinyur harus merujuk pada kebutuhan nasional dan industri di masa depan.

Menristek / Ka.BRIN Bambang Brodjonegoro mengungkapkan proyek & # 39; Riset & Inovasi Sains & Teknologi & # 39; (RISETPro) Program Beasiswa adalah salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas dan daya saing peneliti dan insinyur Indonesia.

"RISETKPro adalah salah satu program SDM unggul yang penting dalam mengembangkan ekosistem penelitian di Indonesia. Program ini merupakan upaya untuk meningkatkan kualitas peneliti dan insinyur nasional. Jadi, apa pun penelitian yang dilakukan di Indonesia, harus difokuskan pada sumber daya manusia yang unggul, "kata Menteri Bambang ketika menjadi Pembicara Utama dalam Simposium Program Gelar RISETPro di Hotel Grand Sahid Jakarta (3/12).

Menteri Bambang menekankan bahwa selain mendapatkan pengetahuan dan pemahaman tentang perkembangan ilmiah dan teknologi terbaru, hal yang paling penting bagi para peneliti dan insinyur ketika melanjutkan pendidikan mereka di universitas-universitas terbaik di luar negeri adalah bahwa mereka dapat merasakan, belajar dan terlibat dalam lingkungan penelitian universitas di negara maju. Dia berharap bahwa para peneliti, insinyur dan akademisi yang telah menyelesaikan studi dapat mengadopsi lingkungan penelitian dan menerapkannya di lembaga masing-masing, sekembalinya mereka ke Indonesia.

"Tentu saja program beasiswa ini diperlukan karena sebagian besar peneliti Indonesia belajar di luar negeri. Selain mendapatkan pengetahuan mereka, sumber daya manusia Indonesia yang unggul diharapkan untuk menguasai teknologi terbaru dan terkini. Namun, saya tetap memprioritaskan penerima beasiswa RisetPro untuk mempelajari dengan seksama tentang lingkungan penelitian & # 39; yang telah berkembang dengan baik di negara-negara maju, di antara universitas-universitas kelas dunia, "jelasnya.

Bambang menekankan bahwa pemerintah akan melanjutkan program ini tahun depan, karena program ini sangat penting untuk memperkuat kualitas peneliti dan insinyur sumber daya manusia Indonesia, sehingga mereka dapat berkontribusi pada pembangunan ekonomi berdasarkan penelitian dan inovasi.

Berbeda dari beasiswa pascasarjana lainnya seperti Lembaga Manajemen Dana Pendidikan (LPDP), RISETPro lebih khusus ditujukan untuk menciptakan lingkungan yang kondusif untuk penelitian dan pengembangan di bidang sains dan teknologi, memperkuat kinerja insentif, dan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia. sumber daya di Lembaga Sains dan Teknologi.

"Program ini tentunya harus dilanjutkan untuk meningkatkan daya saing Indonesia dalam pengembangan ekonomi berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi (Sains dan Teknologi) melalui penguatan sumber daya manusia peneliti dengan penguasaan inovasi dan teknologi," katanya.

Menteri Bambang mengatakan, untuk menyambut bonus demografi 2045, Indonesia harus bergerak cepat untuk menyiapkan generasi yang siap bersaing dan atau berkolaborasi dalam bidang penelitian dan inovasi. Dia berharap bahwa simposium RISETPro akan menunjukkan hasil yang diperoleh oleh alumni selama studi mereka di luar negeri dan juga hasil penelitian dan inovasi mereka setelah kembali ke unit kerja masing-masing. Selain itu, forum ini juga mempertemukan alumni RisetPro dengan Kantor Sains dan Teknologi (KST) dan mitra industri KST dan lembaga pendanaan penelitian. Sehingga kolaborasi riset dan inovasi diwujudkan dengan industri dan lembaga pendanaan penelitian (Triple Helix).

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi Ali Ghufron Mukti menjelaskan Program RISETPro adalah inisiatif dari Pemerintah Indonesia dengan dukungan Bank Dunia melalui Pinjaman No. 8245-ID, yang dimulai pada tahun 2013. Namun dia menjelaskan, tidak semua beasiswa didanai oleh Bank Dunia Berkelanjutan. Bank Dunia melihat keefektifan dana yang disalurkan melalui hasil peserta beasiswa.

Ghufron mengatakan bahwa RISETPro memberikan manfaat besar bagi para peneliti dan insinyur serta untuk lembaga, Lembaga Pemerintah Non-Kementerian (LPNK). Melalui program ini, para peneliti dan insinyur tidak hanya dapat belajar di universitas kelas dunia di luar negeri, mereka juga dapat membangun jaringan dengan para peneliti terkemuka di luar negeri. Jaringan ini harus terus dibina dan dimanfaatkan dengan baik oleh lembaga-lembaga tempat mereka bekerja untuk membangun kolaborasi penelitian yang baik antara lembaga penelitian di dalam dan luar negeri.

"Semua alumni merasakan manfaat luar biasa, tidak hanya untuk individu tetapi untuk lembaga penelitian masing-masing," katanya.

Turut hadir dalam acara tersebut adalah Direktur Jenderal Sumber Daya Sains dan Teknologi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Ali Ghufron Mukti, Penjabat Direktur Kualifikasi SDM Juniarti Duwi Lestari, peneliti dan insinyur yang telah menempuh pendidikan sarjana di berbagai lembaga pendidikan di Jepang, Australia , Belanda, Jerman, Amerika Serikat, melalui pendanaan dari Program RISET-Pro, yang tergabung dalam Asosiasi Alumni RISET-Pro (IASPro), serta tamu undangan lainnya.

Biro Kerjasama dan Komunikasi Publik

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

DON'T MISS